Narasi Strategis – Kios stabilisasi pangan yang dioperasikan oleh Pemkot Kendari bekerja sama dengan BULOG menjadi solusi strategis untuk menstabilkan harga beras dan kebutuhan pokok warga. Program ini menargetkan 400 titik penjualan di seluruh wilayah kota, dengan harapan dapat menurunkan inflasi pangan serta meningkatkan ketahanan pangan daerah.
Latar Belakang Program
Kendari, sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tenggara, mengalami tekanan harga pangan yang signifikan sejak awal tahun 2024. Kenaikan harga beras, gula, dan minyak goreng menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Pemerintah kota, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, menyiapkan kebijakan kolaboratif bersama Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Implementasi dan Lokasi Kios
Program “400 Kios Stabilisasi Pangan” diluncurkan pada 15 September 2024. Setiap kios dikelola oleh mitra lokal yang telah terdaftar, dengan pasokan beras bersubsidi langsung dari gudang BULOG. Lokasi kios dipilih berdasarkan data kepadatan penduduk, tingkat kemiskinan, dan aksesibilitas transportasi. Saat ini, kios tersebar di 12 kecamatan, mencakup pasar tradisional, balai desa, dan area permukiman padat.
Untuk memastikan kualitas dan harga yang konsisten, setiap kios wajib mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang meliputi kontrol suhu penyimpanan, pencatatan stok harian, serta pelaporan penjualan ke sistem pusat. Sistem digital yang terintegrasi memungkinkan Pemkot dan BULOG memantau pergerakan stok secara real‑time, sehingga dapat mengantisipasi kekurangan atau kelebihan pasokan.
Dampak terhadap Harga dan Konsumen
Sejak operasional awal, harga beras di kios stabilisasi pangan berada di kisaran Rp9.500‑Rp10.000 per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp12.000‑Rp13.000. Penurunan harga ini memberikan ruang bernapas bagi keluarga berpenghasilan rendah, terutama dalam menyiapkan menu harian.
Selain beras, kios juga menyediakan paket sembako yang mencakup gula, minyak goreng, dan tepung terigu dengan harga bersubsidi. Data awal menunjukkan penurunan inflasi pangan kota Kendari sebesar 1,2 poin persentase dalam tiga bulan pertama pelaksanaan program.
Tanggapan Masyarakat dan Pemerintah
Warga menyambut baik kehadiran kios stabilisasi pangan. Salah satu warga, Budi Santoso (35), mengaku “sangat membantu, karena saya bisa membeli beras dengan harga terjangkau untuk keluarga empat orang”. Di sisi lain, pedagang tradisional mengungkapkan kekhawatiran mengenai persaingan harga, namun Pemerintah kota menegaskan bahwa kios bersifat non‑profit dan bertujuan menstabilkan pasar, bukan menggusur pelaku usaha tradisional.
Pemkot Kendari melalui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Ir. Siti Nurhaliza, menegaskan komitmen jangka panjang. “Kami akan terus memantau efektivitas kios, menambah lokasi jika diperlukan, serta memperluas jenis barang yang disubsidi demi kesejahteraan warga,” ujarnya dalam konferensi pers pada 20 September 2024.
Prospek Kedepan
Keberhasilan program 400 kios stabilisasi pangan menjadi model yang akan direplikasi di kota‑kota lain di Sulawesi Tenggara. Pemerintah provinsi telah menyiapkan anggaran tambahan untuk memperluas jaringan hingga 800 kios pada tahun 2025, dengan fokus pada daerah terpencil yang belum terjangkau.
Selain itu, inovasi digital seperti aplikasi mobile akan diluncurkan untuk memudahkan warga mengecek stok dan harga secara real‑time, serta memberikan feedback langsung kepada pengelola kios. Diharapkan, sinergi antara pemerintah, BULOG, dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem pangan yang lebih stabil, terjangkau, dan berkelanjutan.






