Narasi Strategis – Pada 10 bulan pertama 2026, kepolisian Kamboja melaporkan peningkatan penangkapan narkoba Kamboja sebesar 18% dibanding tahun sebelumnya, sementara nilai penyitaan turun 12% menurut data resmi Kementerian Dalam Negeri. Peningkatan ini terjadi di seluruh provinsi, termasuk Phnom Penh dan Siem Reap, dan menjadi fokus utama pemerintah dalam memerangi jaringan perdagangan narkotika lintas batas.
Laporan Statistik Penangkapan dan Penyitaan
Menurut laporan bulanan yang dipublikasikan pada 30 Oktober 2026, total tersangka yang ditangkap dalam kasus narkoba mencapai 2.340 orang, naik dari 1.980 orang pada periode yang sama tahun 2025. Sebaliknya, nilai narkotika yang berhasil disita menurun dari 1.450 kilogram menjadi 1.280 kilogram. Penurunan ini dipengaruhi oleh pergeseran taktik pelaku yang kini lebih mengandalkan penyelundupan dalam volume kecil namun bernilai tinggi.
Data tersebut juga menunjukkan pergeseran geografis. Provinsi Phnom Penh mencatat 1.120 penangkapan, meningkat 20% dibanding tahun lalu, sementara Siem Reap mencatat 560 penangkapan, naik 15%. Provinsi lain seperti Battambang dan Kampong Cham juga menunjukkan tren serupa, menandakan bahwa operasi penegakan hukum kini lebih terkoordinasi secara nasional.
Faktor Penyebab Perubahan Tren
Beberapa faktor utama menjadi penyebab naiknya penangkapan narkoba Kamboja. Pertama, pemerintah Kamboja memperkuat kerjasama dengan Badan Narkotika Internasional (INCB) dan negara tetangga, khususnya Thailand dan Vietnam, untuk pertukaran intelijen. Kedua, penggunaan teknologi pengawasan digital, termasuk drone dan sistem pengenalan wajah, memungkinkan aparat mengidentifikasi jaringan distribusi dengan lebih cepat.
Kerjasama Internasional
Dalam pertemuan ASEAN pada bulan Agustus 2026, Kamboja menandatangani nota kesepahaman dengan Thailand untuk operasi bersama di perbatasan. Operasi gabungan yang diluncurkan pada September berhasil menangkap 340 tersangka dalam tiga minggu pertama, meningkatkan angka penangkapan narkoba Kamboja secara signifikan.
Selain itu, bantuan teknis dari Amerika Serikat melalui program Counter Narcotics Assistance Program (CNAP) memberikan pelatihan taktik penyelidikan modern kepada unit khusus kepolisian. Hasilnya, tingkat keberhasilan interogasi dan penyitaan bukti meningkat, meskipun total nilai penyitaan turun karena pelaku beralih ke metode penyelundupan yang lebih tersembunyi.
Implikasi Kebijakan dan Tantangan Kedepan
Naiknya penangkapan narkoba Kamboja menimbulkan harapan bahwa kebijakan zero‑tolerance yang diterapkan pemerintah mulai efektif. Namun, penurunan nilai penyitaan mengindikasikan adaptasi taktik pelaku yang semakin canggih. Pemerintah kini menargetkan peningkatan kapasitas laboratorium forensik untuk mengidentifikasi jenis narkotika baru, serta memperluas program rehabilitasi bagi pengguna.
Pengamat keamanan regional menilai bahwa keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada konsistensi pendanaan dan komitmen politik. Jika dukungan internasional berkurang, kemungkinan besar jaringan kriminal akan kembali menguat, mengancam stabilitas sosial‑ekonomi Kamboja.
Secara keseluruhan, data 2026 menunjukkan bahwa penangkapan narkoba Kamboja menjadi indikator utama keberhasilan penegakan hukum, sementara penurunan penyitaan menandakan perlunya strategi yang lebih adaptif terhadap perubahan modus operandi pelaku.






