Narasi Strategis – Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) memulai perbaikan saluran air Kampung Ambon pada 2 November 2026 untuk mengurangi risiko banjir musiman, meningkatkan kualitas lingkungan, dan memperkuat ketahanan infrastruktur wilayah barat ibu kota.
Latar Belakang Masalah Banjir di Kampung Ambon
Kampung Ambon, yang terletak di wilayah Cengkareng, telah lama menjadi titik rawan banjir akibat saluran pembuangan yang tersumbat, jaringan pipa tua, dan topografi rendah. Data Dinas Penanggulangan Bencana (DPB) menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir terjadi 12 kali luapan air yang mengganggu ribuan rumah tangga. Kondisi ini memperparah masalah kesehatan masyarakat, menghambat aktivitas ekonomi, serta menurunkan nilai properti.
Rencana dan Implementasi Perbaikan Saluran Air
Rencana kerja Pemkot Jakbar mencakup tiga tahap utama: (1) pembersihan (keruk) saluran air utama dan sekunder, (2) penggantian pipa beton berukuran 300 mm yang sudah aus, dan (3) pembangunan kembali kanal dengan desain hidrolik yang mampu menampung debit hujan ekstrem. Tim teknis yang dipimpin oleh Kepala Dinas Cipta Karya, Ir. Budi Santoso, menargetkan penyelesaian fase pertama dalam dua minggu, sementara fase kedua dan ketiga diperkirakan selesai dalam tiga bulan.
Selama fase pembersihan, lebih dari 1.200 meter saluran dibongkar, dipindai dengan kamera inspeksi, dan dibersihkan dari lumpur, sampah plastik, serta akar‑akar pohon. Seluruh proses didokumentasikan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran Rp 12,5 miliar yang dialokasikan khusus untuk proyek perbaikan saluran air Kampung Ambon.
Dampak Sosial‑Ekonomi dan Keterlibatan Masyarakat
Walikota Jakarta Barat, Heru Budi Hartono, menegaskan pentingnya partisipasi warga dalam menjaga kebersihan saluran. “Kami mengundang warga Kampung Ambon untuk menjadi relawan kebersihan, sehingga hasil kerja kami dapat berkelanjutan,” ujar beliau dalam rapat koordinasi. Selain itu, program subsidi listrik selama tiga bulan diberikan kepada rumah tangga yang terdampak selama proses konstruksi.
Pengusaha lokal, seperti pemilik toko kelontong di Jalan Raya Ambon, menyambut baik inisiatif ini karena diharapkan arus pelanggan tidak lagi terhambat oleh genangan air. “Setelah saluran bersih, kami tidak perlu menutup toko setiap hujan lebat,” kata Ibu Siti, pemilik warung.
Pengawasan, Evaluasi, dan Rencana Jangka Panjang
Setiap minggu, tim monitoring yang terdiri dari perwakilan Dinas Cipta Karya, Dinas Lingkungan Hidup, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melakukan inspeksi lapangan. Laporan hasil inspeksi dipublikasikan di portal resmi Pemkot Jakbar untuk memastikan akuntabilitas publik. Jika target pencapaian tidak tercapai, akan ada penyesuaian jadwal dan penambahan tenaga kerja.
Ke depan, Pemkot Jakbar berencana mengintegrasikan sistem drainase pintar yang dilengkapi sensor level air, sehingga data real‑time dapat membantu otoritas mengatur aliran air secara dinamis. Inovasi ini diharapkan menjadi model bagi wilayah lain di Jakarta yang mengalami permasalahan serupa.
Dengan perbaikan saluran air Kampung Ambon yang sedang berjalan, diharapkan tingkat banjir menurun signifikan, kualitas hidup warga meningkat, dan nilai properti di kawasan tersebut kembali naik. Keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti komitmen Pemkot Jakbar dalam mengatasi tantangan perubahan iklim dan memperkuat infrastruktur kota.






