Beranda Daerah Mahasiswa Eksportir Muda Dorong IPB lewat Campuspreneur

Mahasiswa Eksportir Muda Dorong IPB lewat Campuspreneur

Narasi Strategis – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggelar program Campuspreneur di Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melahirkan mahasiswa eksportir muda yang siap menembus pasar internasional, dengan target meningkatkan volume ekspor UMKM pada 2025.

Program Campuspreneur: Gerakan Inovasi Mahasiswa

Campuspreneur merupakan inisiatif lintas kementerian yang menghubungkan mahasiswa dengan mentor industri, pelatihan ekspor, serta akses ke jaringan pembeli luar negeri. Pada edisi kali ini, 120 mahasiswa dari 10 jurusan IPB dipilih melalui kompetisi ide bisnis berbasis agrikultur, manufaktur, dan teknologi pangan. Setiap tim mendapat modul intensif tentang regulasi perdagangan, standar kualitas, serta strategi pemasaran digital selama tiga bulan.

Dukungan IPB dan Prospek Ekspor

Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nasir, menegaskan komitmen kampus dalam mencetak generasi yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menjadi eksportir muda. “Kami menyediakan laboratorium produksi, fasilitas riset pasar, dan kerjasama dengan lembaga riset pertanian untuk memastikan produk mahasiswa memenuhi standar internasional,” ujarnya.

Selama fase pilot 2023, tiga produk – kopi specialty, jamur tiram organik, dan biofertilizer berbasis limbah pertanian – berhasil menembus pasar Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Nilai total transaksi mencapai Rp 3,2 miliar, menandakan potensi besar bagi mahasiswa eksportir muda lainnya.

Mahasiswa peserta, Rani Pratiwi (Tim Kopi Specialty), menyatakan, “Bantuan regulasi dan akses ke platform B2B internasional yang disediakan oleh Kemendag membuka peluang yang sebelumnya tak terbayangkan bagi kami.” Pernyataan ini memperkuat tujuan utama program: mengurangi gap antara inovasi kampus dan kebutuhan pasar global.

Data Badan Pusat Statistik (BAS) menunjukkan bahwa pada 2022, hanya 12% perusahaan di sektor agrikultur memiliki sertifikasi ekspor. Dengan dukungan Campuspreneur, target jangka pendek adalah meningkatkan angka tersebut menjadi 30% dalam lima tahun, khususnya melalui peran mahasiswa eksportir muda.

Namun, tantangan tetap ada. Banyak mahasiswa belum familiar dengan prosedur bea cukai, logistik internasional, dan peraturan sanitasi. Untuk mengatasinya, Kemendan menggelar workshop bulanan bersama Bea Cukai, Lembaga Pengembangan Ekspor (LPE), dan platform logistik digital. Program ini juga menyediakan dana hibah hingga Rp 150 juta per tim untuk riset pasar dan sertifikasi produk.

Ke depan, Kemendag berencana memperluas skema Campuspreneur ke universitas lain di Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan. Diharapkan jaringan alumni mahasiswa eksportir muda akan menjadi ekosistem yang saling berbagi pengalaman, mempermudah akses pasar, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk agrikultur bernilai tinggi.