Narasi Strategis – Petani di Desa Kamojang, Garut, mengubah kotoran ternak menjadi pupuk organik Kamojang yang meningkatkan hasil panen padi dan sayur, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi komunitas lokal.
Proses Pembuatan Pupuk Organik di Kamojang
Setiap pagi, petani mengumpulkan kotoran sapi, kambing, dan domba dari peternakan sekitar. Kotoran tersebut dicampur dengan limbah pertanian seperti jerami dan dedak, kemudian dimasukkan ke dalam lubang pengomposan yang telah dipersiapkan khusus. Selama tiga minggu, bahan-bahan tersebut diaduk secara berkala untuk memastikan aerasi yang cukup, sehingga mikroorganisme dapat menguraikan bahan organik menjadi nutrisi yang mudah diserap tanaman.
Setelah proses pengomposan selesai, hasilnya berupa humus berwarna coklat tua yang kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalium. Petani Kamojang kemudian menjemur pupuk organik Kamojang selama satu hari sebelum dibagikan ke lahan pertanian. Metode sederhana ini tidak memerlukan alat berat, sehingga dapat diadopsi oleh petani skala kecil.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Penggunaan pupuk organik Kamojang terbukti meningkatkan produktivitas lahan. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Garut menunjukkan kenaikan hasil padi sebesar 18% dan sayuran sebesar 22% pada musim tanam 2024 dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia konvensional. Selain meningkatkan hasil, pupuk organik mengurangi ketergantungan pada input kimia yang mahal, sehingga menurunkan biaya produksi petani hingga 30%.
Secara lingkungan, pemanfaatan kotoran ternak mengurangi pencemaran air dan udara yang biasanya terjadi bila kotoran dibuang sembarangan. Proses pengomposan juga mengurangi emisi metana, gas rumah kaca yang kuat, sehingga kontribusi pertanian Kamojang terhadap perubahan iklim menjadi lebih positif.
Dukungan Pemerintah dan Prospek Ke Depan
Pemerintah Kabupaten Garut bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memberikan pelatihan teknik komposasi kepada lebih dari 150 petani sejak awal tahun 2023. Selain itu, program subsidi pupuk organik Kamojang memungkinkan petani menjual produk mereka ke pasar regional dengan harga kompetitif.
Ke depan, petani berencana memperluas jaringan distribusi ke kota-kota besar di Jawa Barat, sekaligus mengembangkan varian pupuk organik khusus untuk tanaman hortikultura. Dengan dukungan teknologi digital, petani dapat memantau kualitas kompos secara real‑time, memastikan standar nutrisi tetap konsisten.






