Narasi Strategis – Pertamina NRE dan SGN-Agrinas menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 2 September 2024 di Jakarta untuk memperkuat pengembangan bioenergi pertamina. Kesepakatan mencakup pembangunan pabrik biodiesel skala menengah, riset selulosa, dan integrasi rantai pasok limbah pertanian menjadi bahan bakar hijau. Kedua belah pihak menargetkan produksi 150 ribu ton biofuel per tahun mulai 2026, selaras dengan komitmen pemerintah mengurangi emisi karbon 29% pada 2030.
Ruang Lingkup Kerjasama
Kerjasama ini dibangun atas dasar joint venture antara unit energi terbarukan Pertamina NRE dan perusahaan agribisnis SGN-Agrinas. Fokus utama adalah memanfaatkan limbah kelapa sawit, jagung, dan singkong sebagai feedstock untuk bioenergi pertamina. Tim teknis kedua perusahaan akan berbagi teknologi transesterifikasi, katalis berbasis nano, serta sistem kontrol kualitas otomatis. Selain itu, program pelatihan tenaga kerja lokal akan dijalankan untuk memastikan keberlanjutan operasional pabrik yang direncanakan.
Investasi dan Target Produksi
Investasi awal mencapai USD 250 juta, dengan kontribusi masing-masing pihak sebesar 55% dan 45%. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan fasilitas pra‑proses, instalasi fermentasi, serta jaringan distribusi biofuel ke stasiun pengisian Pertamina di seluruh Indonesia. Target jangka pendek adalah menghasilkan 50 ribu ton biodiesel pada tahun 2025, kemudian meningkat menjadi 150 ribu ton pada 2026. Pencapaian ini diharapkan menambah pangsa pasar biofuel nasional hingga 12%.
Manfaat Lingkungan dan Ekonomi
Bioenergi pertamina yang dihasilkan dari limbah pertanian akan menurunkan intensitas karbon sebesar 30% dibandingkan bahan bakar fosil konvensional. Selain mengurangi emisi CO2, proyek ini membuka peluang pasar baru bagi petani lokal yang kini dapat menjual residu tanaman dengan harga premium. Diperkirakan penciptaan lapangan kerja langsung mencapai 1.200 orang, sementara efek multiplier ekonomi regional dapat menambah nilai tambah sebesar Rp 1,8 triliun per tahun.
Implikasi bagi Kebijakan Energi Nasional
Langkah kolaboratif ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2025‑2035 yang menargetkan 23% energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Keberhasilan bioenergi pertamina dapat menjadi contoh bagi perusahaan energi lain dalam mengintegrasikan sumber biomassa ke dalam portofolio mereka. Pemerintah diperkirakan akan memberikan insentif fiskal tambahan, termasuk pengurangan pajak impor bahan baku katalis dan kredit karbon bagi produsen biofuel.
Ke depan, Pertamina NRE dan SGN-Agrinas berencana memperluas riset ke arah bioetanol dan biogas, serta menjajaki peluang ekspor biofuel ke pasar Asia Tenggara. Jika target produksi tercapai, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor minyak mentah sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain utama bioenergi di kawasan.





