Narasi Strategis – Menteri Perdagangan Kanada, Mary Ng, dan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengadakan pertemuan bilateral di Washington pada Senin, 31 Oktober 2024 untuk membahas kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS yang diharapkan memperkuat rantai pasok dan mengurangi tarif pada produk pertanian serta teknologi. Pertemuan ini menandai langkah pertama setelah dua tahun terhenti akibat perselisihan tarif dan kebijakan proteksionis.
Latar Belakang Negosiasi
Negosiasi kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS bermula pada 2022 ketika kedua negara menyepakati perlunya modernisasi perjanjian NAFTA yang telah berusia lebih dari dua dekade. Namun, kebijakan unilateral Amerika Serikat pada 2023 menimbulkan ketegangan, terutama terkait tarif baja dan aluminium. Pada 2024, perubahan kepemimpinan di Kanada dan penunjukan kembali Trump sebagai penasihat perdagangan membuka peluang dialog kembali.
Poin-Poin Utama yang Dibahas
Dalam pertemuan, Carney (yang mewakili pemerintah Kanada) menekankan tiga prioritas: (1) penghapusan tarif pada produk pertanian Kanada, khususnya maple syrup dan daging sapi; (2) akses yang lebih luas bagi perusahaan teknologi Kanada ke pasar Amerika Serikat; serta (3) mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih transparan. Trump menanggapi dengan menyoroti perlunya perlindungan industri manufaktur AS, namun menyatakan kesediaannya untuk meninjau kembali tarif yang diberlakukan pada 2023.
Selain itu, kedua pihak sepakat untuk membentuk komite teknis yang akan bertemu tiap tiga bulan guna memantau implementasi kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS. Komite tersebut akan melibatkan pejabat dari Departemen Perdagangan Kanada, Departemen Perdagangan AS, serta perwakilan sektor swasta.
Implikasi Ekonomi dan Politik
Jika kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS berhasil disepakati, diperkirakan akan meningkatkan volume perdagangan bilateral sebesar 12% dalam lima tahun ke depan. Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa sektor pertanian Kanada dapat memperoleh tambahan pendapatan US$1,5 miliar, sementara perusahaan teknologi AS berpotensi menambah ekspor sebesar US$2 miliar ke Kanada.
Dari perspektif politik, kesepakatan ini dapat meredam ketegangan yang selama ini mengganggu hubungan kedua negara. Pengamat kebijakan luar negeri, Dr. Rina Wijaya, menilai bahwa keberhasilan kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS akan menjadi contoh bagi negosiasi perdagangan multilateral lainnya, termasuk upaya revitalisasi WTO.
Tantangan Kedepan
Meski ada kemajuan, tantangan tetap signifikan. Salah satu hambatan utama adalah perbedaan regulasi standar produk makanan antara Kanada dan AS, yang dapat memperlambat proses harmonisasi. Selain itu, tekanan dari kelompok lobi industri dalam negeri masing-masing negara dapat mempengaruhi keputusan akhir.
Para ahli menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi publik untuk menghindari persepsi proteksionisme. Mereka menyarankan agar pemerintah kedua negara melibatkan media dan organisasi konsumen dalam proses konsultasi.
Dengan agenda pertemuan lanjutan yang dijadwalkan pada akhir Desember 2024, semua mata kini tertuju pada kemampuan Carney dan Trump untuk mengatasi perbedaan kebijakan dan menghasilkan kerangka kesepakatan dagang Kanada-AS yang berkelanjutan.






