Beranda Ekonomi Ekonomi Indonesia TW-III Tumbuh >5%: Proyeksi Prasasti

Ekonomi Indonesia TW-III Tumbuh >5%: Proyeksi Prasasti

Narasi Strategis – Ekonom Prasasti memproyeksikan ekonomi Indonesia TW-III 2024 tumbuh di atas 5 persen, didorong oleh ekspor non‑migas, konsumsi rumah tangga, dan penurunan biaya energi. Proyeksi ini mengindikasikan percepatan pemulihan setelah tiga kuartal pertama tahun ini, sekaligus menegaskan target pemerintah untuk menstabilkan inflasi di bawah 4 persen.

Proyeksi Pertumbuhan dan Metodologi

Menurut laporan terbaru yang dirilis pada 30 Oktober 2024, Ekonom Prasasti menggunakan model ekonometri berbasis data kuartalan sejak 2015. Faktor utama yang memberi dorongan pada ekonomi Indonesia TW-III meliputi:

  • Ekspor barang manufaktur naik 12,3 persen YoY, dipicu oleh permintaan Asia Tenggara.
  • Konsumsi rumah tangga meningkat 4,1 persen berkat kenaikan pendapatan riil.
  • Penurunan harga minyak mentah global menurunkan biaya produksi energi sebesar 6,8 persen.

Model tersebut juga memperhitungkan kebijakan moneter Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan pada 5,75 persen, serta stimulus fiskal yang diarahkan pada infrastruktur transportasi dan energi terbarukan.

“Kami melihat sinyal positif dari sektor riil, terutama pada industri pengolahan dan jasa logistik,” kata Ekonom Prasasti, Dr. Budi Santoso, dalam konferensi pers di Jakarta. “Jika kebijakan tetap konsisten, pertumbuhan di atas 5 persen bukan lagi sekadar harapan, melainkan skenario yang realistis untuk TW-III.”

Implikasi Kebijakan dan Tantangan ke Depan

Proyeksi ekonomi Indonesia TW-III di atas 5 persen membawa implikasi penting bagi pembuat kebijakan. Pertama, anggaran 2025 dapat dialokasikan lebih agresif pada program infrastruktur, mengingat peningkatan pendapatan pajak yang diharapkan. Kedua, stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi krusial untuk mempertahankan daya saing ekspor.

Namun, tantangan tetap ada. Inflasi masih berada di kisaran 4,2 persen, sedikit di atas target 4 persen, yang menuntut koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Selain itu, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik di Laut China Selatan dapat memengaruhi aliran perdagangan.

Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa langkah strategis diusulkan:

  • Memperkuat cadangan devisa guna menahan volatilitas nilai tukar.
  • Memperluas skema kredit mikro bagi UMKM yang menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga.
  • Menjalin kerja sama regional dalam rantai pasok elektronik untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Jika kebijakan ini diimplementasikan secara terkoordinasi, proyeksi ekonomi Indonesia TW-III dapat menjadi landasan bagi pertumbuhan tahunan yang berkelanjutan, memperkuat posisi Indonesia di antara ekonomi emergen Asia.